Langsung ke konten utama

Ingatkah, Ketika Kau Pernah Menjadikanku Bagian Terfavoritmu?

Masih ingatkah denganku?

Perempuan yang dulu kerap kau panggil "sayang".
Perempuan yang dulu pernah menempati ruang hatimu.
Perempuan yang dulu sempat menjadi pelabuhan terakhirmu.
Perempuan yang dulu menjadi tempat pulangmu.
Perempuan yang dulu selalu kau tunggu.

Masih ingatkah denganku?
Dulu kau begitu mencintaiku.
Dulu kau takut kehilanganku.
Dulu kau selalu menjagaku.
Dulu kau menjadikanku bagian favoritmu.

Masih ingatkah?

Kau ingat...

Jika belum, kemarilah ku ingatkan kembali.

Aku adalah...

Seberapa sabarnya menghadapi sifatmu.
Seberapa banyak airmataku jatuh karenamu.
Seberapa dalamnya aku mencintaimu.
Dan rasanya sesakit ini mencintaimu.

Dari aku, untukmu.

Saat ini aku masih mencintaimu.
Ketahuilah, rasaku masih sama dengan yang dulu.
Membencimu, adalah hal termunafik yang pernah aku katakan.

Selamat, karena kau telah membawa separuh hidupku.

Kau berhasil.

Kau berhasil.

Berhasil, membuatku selalu mencintaimu.

Kau curang.

Iya curang.

Telah merampas hatiku.
Hingga tujuanku beralih hanya pada dirimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepotong Hati

(Sumber: id.pinterest.com) Betapa egoisnya aku harus meninggalkan seseorang yang aku cintai demi membahagiakan seseorang yang aku sayangi. Mungkin, aku menjadi orang paling bodoh karena telah meninggalkanmu. Namun, aku menjadi orang paling egois jika tidak patuh mengikuti keinginan orangtuaku. Aku yang selalu mencintaimu. Aku yang selalu membuatmu tertawa. Aku yang selalu memberikanmu hal-hal terbaik untuk dirimu. Berharap selalu bersama. Tapi nyatanya, aku harus kehilanganmu yang mencintaiku. Memang benar, memaksakan diri untuk melupakanmu bukanlah hal yang baik. Tetapi aku harus belajar mengikhlaskan dirimu walau nyatanya pun sulit. Melepaskan seseorang yang sangat kita cintai pun sakitnya seperti tertusuk ribuan jarum dan tentunya menyesakkan dada. Apalagi meninggalkannya bukan kemauan kita. Terlalu berlebihan jika aku menyebutnya patah hati. Tetapi hilangnya sepotong hati membuatku menjadi seperti tak punya kebahagiaan yang nyata. “Maaf, aku mencintaimu t...

Pesan

(Sumber: id.pinterest.com) Aku menuliskan ini bersama beberapa rasa yang sedang mengusik ruang kepalaku. Entah bagaimana bisa aku merekam dengan jelas dirimu dalam pikiranku. Saat ku pejamkan mata, bayanganmu selalu hadir. Menari-nari indah dalam ilusiku. Tanpa permisi kamu masuk ruang lingkup hatiku bersama gejolak perasaan yang membuncah. Ingin ku beritahu, tapi ku terlalu malu untuk memberitahumu. “Aku merindukanmu.” Bolehkah ku berharap agar kita dipertemukan kembali? Aku menanti sebuah keajaiban dari Tuhan untukku. Aku berharap dapat menciptakan kisah manis sewaktu dulu. Aku juga berharap agar waktu berhenti saja ketika aku sudah bersamanya. Apa aku berlebihan meminta semua itu pada Tuhan? Aku teringat semua kenangan kita. Ada banyak yang telah kita lalui. Suka duka sudah kita nikmati bersama. Asam manis dan pahitnya sudah kita rasakan. Bolehkah aku tetap tinggal di hatimu? Aku ingin terus bersamamu. Aku ingin langkah kakimu selalu pulang kepadaku. Aku juga ingin ...

Saat Cintamu Bertepuk Sebelah Tangan

(Sumber: id.pinterest.com) Ada masanya kamu ingin menyerah. Rasanya ingin berteriak keras meluapkan ke udara perihal rasa cinta yang hanya bisa dinikmati sendirian. Pada malam panjangmu, kamu selalu membayangkan betapa indahnya jika cintamu mendapatkan balasan. Lalu, berjalan berdua menyusuri kota pada malam hari. Berjuang bersama membuat hubungan yang dijalani lebih bermakna. Bersamanya, kamu menjelma menjadi makhluk yang paling bahagia sedunia. Ini ajaib. Melihatnya tersenyum manis membuatmu selalu jatuh cinta. Tak heran, banyak perempuan di luar sana yang menyukainya. Jatuh cinta dengannya tak pernah kamu rencanakan. Semenjak kamu sadar jika kamu menyukainya, tiada hentinya kamu menjadi pemerhati sosial medianya. Ketika kamu mengamatinya dari kejauhan dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja membuatmu merasa tenang. Diam-diam kamu melengkungkan senyuman manis yang terukir di bibir. Ah, jatuh cinta memang selalu membuat pelakunya gila. Cinta memang selalu mem...